Artikel

Cara Menggapai Ilmu Manfaat

     Semua telah sadar, dalam lingkup dunia pendidikan, manusia sebagai pemerannya, baik sebagai subjek sekaligus objek. Keilmuan sebagai mediannya, patuh –taqwa- pada Tuhan sebagai tujuan paripurnanya, dan kemampuan untuk menjawab berbagai macam problematika yang bersifat waqi’iyyah (kekinian) maupun antisipasi masa depan terlebih akhirat sebagai  keniscayaan. Oleh sebab itu, ilmu sebagai medianya menjadi sesuatu yang begitu berharga. Telah maklum dikalangan kita, bahwa keutamaan ilmu begitu agung. Namun acapkali kita lalai, dengan apa yang sudah kita dapatkan. Ternyata masih banyak kerangka dan variabel yang harus dipenuhi agar ilmu tadi sesuai dengan apa yang dikehendaki dan dipuji oleh agama. Oleh sebab itu sudah menjadi rahasia umum untuk memperoleh ilmu, terlebih ilmu yang bermanfaat membutuhkan kesabaran dan tenaga ekstra. Dalam kitab “Man Jadda Wajada” karya   Habib Zain Bin Smith, beliau menuturkan:

ِإِنّه كُلَّما شرُفَ المَطلَبُ زاد التعَبُ والنَصَبُ في بُلُوغِه

“Sesungguhnya ketika semakin agung perkara yang dicari, maka semakin bertambah pula letih dan susah untuk menggapainya.”

     Oleh sebab itu, meneladani dan meniru generasi terdahulu yang sudah terbukti keberhasilannya merupakan cara ampuh untuk merengkuh ilmu yang bermanfaat. Tulisan kita kali ini akan mencoba sedikit membedah kitab Adabul ‘Alim Wal Muta’alim karya Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Dalam kitab tersebut beliau menjelaskan. Salah satu hal paling prinsip dalam keberhasilan menuntut ilmu adalah adab.  Oleh karenannya seorang pembelajar wajib mengerti dan mengamalkan etika atau kode etik dalam proses belajar. Diantara etika tersebut adalah:

  1. Hendaknya seorang pelajar senantiasa membersihkan hatinya dari segala macam tipu daya, kotoran, unek-unek, hasud, jeleknya keyakinan dan akhlaq. Semuanya tadi agar seseorang mampu menerima ilmu, menjagannya, mampu mengetahui ilmu-ilmu yang begitu lembut maknanya serta mampu memahami hal-hal yang begitu samar.
  2. Membaguskan niat dalam mencari ilmu sekira tujuanya hanya semata-mata karena Allah, menghidupkan syar’iat, menghidupkan cahaya dalam hati, menghiasi jiwa dan mendekatkan diri pada Allah. Serta janganlah mencari ilmu dengan tujuan duniawi semisal demi ambisi menjadi seorang pemimpin, memperoleh pangkat, harta, serta ingin tampak lebih unggul dari rekannya sehingga orang-orangpun condong untuk mengagungkannya dan seterusnya.
  3. Bersegera dalam menghasilkan ilmu terlebih ketika masa muda. Serta mencurahkan waktu untuk mendapatkannya. Dan janganlah tertipu dengan bujukan untuk menunda-nunda melaksanakan hal baik, dikarenakan setiap waktu yang telah pergi tidak mampu kembali. Kemudian hendaknya seorang pelajar memfokuskan pikirannya, sekira ia memutus berbagai macam urusan-urusan yang menyibukkan hingga membuat ia tercegah memperoleh kesempurnaan ilmu serta tercegah untuk mencurahkan usaha secara totalitas. Karena, sesungguhnya kesemuanya tadi termasuk perkara yang bisa memutus jalan memperoleh ilmu.

     Dari tiga point tadi, kita bisa menarik garis lurus. Bahwa ilmu merupakan sebuah anugerah dari Tuhan yang Maha Esa, maka membaguskan niat serta membersihkan hati dari berbagai macam penyakit hati merupakan sebuah keharusan. Hal ini sesuai dengan petunjuk Imam Waki’ ketika memberikan nasihat kepada murid beliau, yakni Imam Syafi’i. Ketika itu Imam Syafi’i menanyakan perihal buruknya hafalan. Kemuadian Imam Waki’ memberi sebuah jawaban yang begitu prinsip, “ jauhilah kemaksiatan, sesungguhnya ilmu adalah bagian dari anugerah Allah, dan anugrahnya tak akan pernah diberikan pada orang yang bermaksiat pada-Nya ”.

 

 

Semoga kita termasuk golongan yang diberi anugerah-Nya, Aamiin. Wabillaahi At-Taufiiq

Kaifa.

 

Facebook Comments

Tampilkan Selengkapnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close