Artikel

CARA MENGHAPUS DOSA

         Tanpa sadar semua ihwal atau pergerakan yang dilakukan manusia ternyata memiliki konsekuensi tersendiri baik secara ucapan maupun gerak tubuh. hal ini, kerap terjadi dan dialami manusia sebagai seorang insan yang mempunyai sifat khoto’ atau lalai dalam memperhitungkan apa yang dilakukan. Imbasnya dari apa yang telah dilakukan itu. kadang membentuk sebuah rasa ketidak nyamanan atau ketenangan dalam menjalani aktifitas hidup sehari-hari seperti gelisah yang diakibatkan oleh rasa bersalah.

           Sebagi seorang insan memiliki rasa bersalah memanglah wajar adanya. Namun bila hal demikian dipelihara maka efek negatif yang akan ditimbulkannya pun bisa berdampak  besar dan fatal seperti gangguan kesehatan baik mental maupun tubuh. sebagaimana seorang imam agung dari tokoh muslim Ibnu Sina menyatakan “dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat”. Simpelnya  ketika seseorang memiliki rasa bersalah hendaknya jangan diendapkan tapi harus segera ditangani selagi masih ada kesempatan untuk mengobatinya.

          Sebelumnya perlu disampaikan bahwa rasa bersalah yang dimaksud dalam bahasan ini adalah bentuk pemetaan atau bentuk ekspresi dari pada dosa yang tidak bisa diketahui bentuk dan warnanya melalui indra. Yang pada umumnya ditimbulkan oleh ihwal sewaktu seseorang bersosial dengan tetangga atau saudara  jauh maupun dekat. Sehingga bahasannya pun dititik beratkan pada dosa atau rasa bersalah yang terkait dengan hak adami saja serta cara menghilangkannya.

        Dosa yang ditimbulkan dari hak adami bila direduksi menurut sebenarnya tidak lepas dari pada empat bagian (1) Harta benda. (2) Anggota badan atau nyawa. (3) Harga diri. Dan (4) Berkhianat.  Dari keempat ini perlu diperhatikan karena cara menghapus atau bertaubatnya pun memiliki konsep tersendiri. Sebagaimana metode yang dikemukakan oleh imam Al-Ghozali dalam karyanya Minhajul Abidin:

Dosa yang berkaitan dengan hak adami dan ditimbulkan dari Harta benda.

        Cara menghapus atau bertaubat dari dosa yang terkait hak adami jika berasal dari harta benda maka wajib untuk mengembalikan harta tersebut kepada pemiliknya selagi mungkin, dan jika tidak memungkinkan untuk mengembalikan harta tersebut dikarenakan faktor seperti tidak memiliki biaya (faqir) maka ia harus meminta legalitas (halal) kepada pemiliknya atas harta yang telah diambil, dan apabila tidak memungkinkan lagi dikarenakan pemiliknya jauh atau sudah meninggal namun mungkin untuk disedekahkan maka hendaknya harta tersebut  di sedekahkan, dan apabila tidak mungkin lagi menurut Imam Al Ghozali hendaknya ia memperbanyak amal sholeh, rendah diri, dan bertaubat kepada Allah SWT supaya diikhlaskan oleh si pemilik harta di akhirat nanti.

Dosa yang berkaitan dengan hak adami dan ditimbulkan dari anggota badan atau nyawa.

         Cara menghapus atau bertaubat dari dosa yang terkait hak adami jika berasal dari anggota badan atau nyawa seseorang  maka mintalah diri untuk dihukum (qisos) apabila memungkinkan, sedang apabila tidak mungkin maka bertaubatlah kepada Allah  supaya mendapat kerelaan dari yang berhak menghukum (qisos) di akhirat nanti.

Dosa yang berkaitan dengan hak adami dan di timbulkan atas nama harga diri

           Cara menghapus atau bertaubat dari dosa yang terkait hak adami jika berasal dari masalah harga diri seperti mencela, berbohong dan menggosip tetangga maka minta maaflah (halal) terhadap yang bersangkutan atas apa yang telah di lakukannya jika tidak dikhawatirkan adanya fitnah atau memantik amarah yang bersangkutan dan apabila dikhawatirkan maka bertaubatlah kepada Allah SWT supaya mendapat ikhlas dari yang disakiti.

Dosa yang berkaitan dengan hak adami dan ditimbulkan dari perlakuan berkhianat

           Cara menghapus atau bertaubat dari dosa yang terkait hak adami jika berasal dari perlakuan khianat, semisal berkhianat pada istri atau anak dan semisalnya. Menurut Imam Al Ghozali tidak perlu meminta maaf (halal) sebab dapat menimbulkan fitnah yang amat besar sehingga dicukupkan untuk bertaubat (meminta ampunan) kepada Allah SWT supaya mendapatkan ikhlas dari orang yang telah disakiti.

Disarikan dari kitab Hasyiah Jamal ‘Ala Syarhil minhajutthullaab li Sulaiman Bin ‘Umar Al-Jamal Juz 5 Hal 388

 

 

Tim Literasi Kwagean

Facebook Comments

Tampilkan Selengkapnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close