Tulisan Bebas

Doa Tanpa Kata-kata

Cerpen

           Memang kalau dihitung-hitung bulan Ramadhan itu bisa dikatakan sebagai bulan doa, karena frekuensi doa yang diucapkan setiap orang memang lebih banyak daripada hari-hari biasa, baik untuk takaran orang biasa maupun bagi mereka mereka yang tergolong wira’i.

            Bagi golongan yang terakhir, seluruh gerak hidupnya, seluruh detak jantungnya, aliran darahnya, dan krentekhatinya sudah tidak ada yang lain kecuali do’a itu sendiri. Sebagian yang lain mungkin hanya ingat berdo’a pada saat tertentu, ketika hati sedang sumpek, atau ketika nasib yang mujur, sebagian yang lain lagi mungkin hanya berdoa dengan mulut dan otak karena terlanjur fasih, dan sebagian yang lain lagi mungkin merasa hanya bisa berdo’a dengan mengucapkan amin, nge-gongi doa yang dipimpin orang lain.

            Maka, tidak anehlah kalau pembicaraan di langgar kali ini adalah tentang do’a ngalor-ngidul obrolan atau pembicaraan tanpa sistematika itu berputar-putar di sekitar do’a.

            Tapi, malam itu Cak Drun panggilan akrab Sudrun menyeret anak-anak muda kedalam suatu dongeng tentang Laut, Gunung, dan Bumi. Suatu dongeng yang menarik dan mengharukan, tapi celakanya Cak Drun tak bersedia menyelesaikannya. Dia berhenti di tengah jalan dan dibiarkan anak-anak muda itu memperdebatkan bagaimana kira-kira akhir dongeng tersebut.

            Kata Cak Drun, ”Pada suatu hari Gunung-gunung berdo’a kepada Allah : ‘ Ya Alloh… perkenankan kami meletus, meledak, perkenankan kami menumpahkan lahar dan batu-batu panas”.Para Malaikat yang mendengarkan bunyi do’a Gunung-gunung itu sepontan bertanya , “Untuk apa…?”

“Untuk menghancurkan manusia !” jawab Gunung-gunung. “Untuk meluluhlantakkan umat manusia, supaya mereka mekik-mekik kesakitan dan terbakar hancur !”

Kenapa …?” tanya Malaikat.

“Karena  manusia sangat durhaka, mereka sudah terlalu berkhianat kepada Allahnya, mereka munafik, menipu satu sama lain, berperang,, dan merusak kehidupan ..!”

Sudrun bertanya, “Apa kira-kira jawab Allah …?”.Dan sebelum anak-anak muda itu menjawab, Sudrun meneruskan dengan mengemukakan bahwa kemudian laut juga berdoa , “Wahai Allah, izinkan aku meluapkan airku! supaya seluruh bumi kebanjiran…!!, supaya manusia tenggelam dan seluruh miliknya hancur berantakan …!”.Dan ketika Malaikat bertanya kenapa berdoa demikian, sang Laut cepat menjawab, “Karena manusia itu rata-rata adalah tukang dusta…!, mereka pura-pura menyembah Allah, padahal setiap saat mereka tidak menomorsatukan Allah, mereka merusak alam, mereka rakus dan serakah, mereka hanya tahu kepentingannya sendiri, kepentingan golongan dan diri mereka sendiri, mereka itu pencuri-pencuri yang mengaku alim…!”.

Dan Sudrun bertanya lagi, “Apakah kira-kira Allah akan mengizinkan atau mengabulkan doa Laut…?”

Lantas diteruskan bahwa bumi pun berdoa,“ Ya azza Wajalla , perbolehkan aku membelah-belah memecah-mecah diriku, perbolehkan aku menciptakan seribu gempa, supaya ku makan itu manusia yang durjana, supaya ku hisab mereka ke kerak panasku, supaya lenyap ketakutan mereka yang selama ini banyak mereka pergunakan untuk menghasilkan rezekimu, tidak untuk sesuatu manfaat, tetapi untuk sesuatu yang membunuh diri mereka sendiri….!, aku muak pada umat manusia, aku marah , aku bosan, aku tidak bisa bersabar lagi, …! manusia harus dihajar!”

            Anak-anak muda itu termanggut-manggut,

            “Apa jawaban Allah atas doa mereka?” Sudrun bertanya …“Ya apa dong?” teriak anak-anak itu, tapi Cak Drun panggilan akrab Sudrun itu sungguh-sungguh tidak bersedia meneruskan dongengnya sedemikian rupa sehingga mau tak mau anak-anak muda itu lantas berdebat satu sama lain.

            “Mana mungkin Gunung  dan Laut berdoa…!” kata seseorang.

            “Kenapa tidak…?!” kata yang lain, “Di dalam Alquran banyak disebutkan betapa pepohonan, bintang atau gunung-gunung itu bersembahyang kepadanya..!”

“Ya…!” sahut lainnya.

“Alam memiliki muammalahnya sendiri dengan Alloh…! “

“Ya…, kira-kira Allah mengabulkan atau tidak…?”

            “Dulu, waktu Allah menciptakan Adam, para Malikat juga protes :” untuk apa Allah menciptakan makhluk manusia, yang hanya akan membikin rusak dan menumpahkan darah di  bumi?” , tapi Alloh menjawab : “Engkau tak tau apa-apa !, Aku yang tau !,”

            “Jadi mungkin begitu juga jawaban Allah kepada doa gunung dan laut serta bumi itu…?”

“Mungkin Allah menjawab begini …” suara seseorang yang lain. “Wahai gunung, laut, dan bumi, tenanglah …!, tingkah kemakhlukan kalian lebih rendah daripada manusia. Jadi kalian tidak akan sanggup menghayati betapa aku mencintai manusia. Maunisia adalah ‘master piece’, ciptaanku. Mereka itu akhsanu taqwiim, tenanglah kalian, aku maha mengerti apa yang aku kehendaki. Dan ketahuilah, seandainya engkau yang menciptakan manusia, akan demikian juga cintamu kepada manusia…”

“Hussy..?, jawaban model apa  itu…!” bentak lain.

“Baiklah, ,Malaikat itu tak tahu dan Allah yang tahu, gunung, laut, dan bumi tak akan tahu, Allah yang maha tahu, tapi apakah manusia tau, apakah manusia mengerti  ?”

“Mengerti apa?, tahu apa ?”

“Mengerti apa yang harus mereka mengerti  ?”

            Anak-anak muda itu berdebat sampai subuh tiba, Sudrun hanya merenung sendiri, lamunannya melesat jauh, berada dalam awang-awang, dalam keheningan menunggu pagi seperti lagu Peterpen yang meledak pada 2007-an itu.

“Kalau begitu, doa memang tidak harus menggunakan kata-kata.” Sahut salah satu dari mereka ditengah perdebatan panjang. Kalau begitu, setiap implementasi hidup itu sendiri substansinya boleh jadi juga sebuah doa. Gadis-gadis berhijab dan berpakaian rapat-rapat itu boleh jadi bermakna doa tanpa kata-kata agar dilindungi oleh Allah dari kejahiliyahan dunia. Dan bagi mereka yang sengaja ngeler auratnya bermakna sebaliknya. Itu semua merupakan salah satu contoh kejadian di dunia.

            Adzan subuhpun terdengar mengakhiri perdebatan itu.

 

 

Oleh : Ahadi talamidzi fathul ulum ( Juara I—lomba akhir tahun Pesantren Fathul Ulum)

 

Facebook Comments

Tampilkan Selengkapnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga

Close
Close