Kwagean KitaTulisan Bebas

Sheath (sarung)

cerpen

Kau tidak akan menemukan dirimu dalam hakikat sebenarnya saaat sebuah tradisi yang kau miliki dipaksa menjadi Sebuah kata berbunyi “TREN” –(Zee)

***

Aku masih terpaku menatap sosok tersebut, sekilas tidak ada yang istimewa, tapi ada sesuatu yang membuat pandangan ku tertahan.

Bersarung???

Ini Eropa bung! Kenapa dia begitu percaya diri memakai pakaian seperti itu di Negara yang terkenal dengan rancangan-rancangan modelnya. Mungkin aku tidak terlalu terheran kalau dia cuma pakai hijab, karena itu sudah sering terlihat oleh beberapa turis dari daerah sekitar Timur Tengah, tapi ini lain, ini sarung yang dikenakan!!!, bagaimana pandangan orang terhadapnya?, entah apa yang ada dipikiran cewek itu sampai dia berani tak menghiraukan tatapan-tatapan aneh dari sekitarnya.

Kenapa harus bersarung?

Kenapa harus memakai pakaian yang…ah (pen, ndeso – tapi bacanya dalam hati aja keles)

Seharusnya kan dia bisa beli busana Muslim yang lagi trend sekarang. Berhubung dia bisa beli tiket pesawat dan terbang kesini, jadi nggak mungkin juga kalau alasan nggak bisa beli gara-gara nggak punya uang.

Apa trend buasana di Indonesia kini mulai ada kemunduran?, itu juga nggak masuk akal sih kalau faktanya diberbagai media sosial masih ramai para artis yang meng-endorse busana Muslim Syar’i tapi masih mengandung ke-modern-an.

Dan apakah aku juga salah jika berfikir kalau sarung itu mempunyai kekhususan untuk kaum cowok?, entahlah yang jelas selama ini aku belum pernah melihat ada cewek yang pakai sarung dan ini adalah yang pertama aku melihatnya, itu membuat segalanya terlihat sangat absurd.

Parahnya lagi aku tidak sadar berapa lama diriku berdiri diatas sana hanya untuk memandanginya, sampai aku lihat dia menaiki sebuah mobil dan menghilang.

Besoknya aku bertemu lagi dengan cewek tersebut di taman kota.

Lagi-lagi bersarung…

Ah… terserah dialah, kenapa juga aku harus berepot-repot ria memikirkan apa yang dipakai.

Sekali lagi ku tatap dia yang kini sedang menggandeng tangan seorang cowok, mungkin pacarnya, tapi aku tersentak saat cowok tadi menoleh ke arah ku.

Faris???

Tak mungkin! meskipun aku cuma kenal dia sebatas teman kuliah yang sama-sama dari Indonesia tapi aku tahu betul reputasinya tentang lawan jenis sangat payah. Jangankan begandengan tangan, berani menatap cewek saja enggak, apalagi pacaran mustahil.

“Bukan mukhrim, takut fitnah”, jawab dia disela-sela jam kuliah saat kutanyakan alasan mengapa dia sangat dingin dengan para wanita.

“Lex… lex!” mungkin terlalu lama aku termenung sehingga tidak sadar faris beberapa kali memanggil ku tadi, dan kini dia sudah berada disampingku dan menepuk bahu ku, membangunkan alam sadarku, ku tenggok dia yang kini telah tersenyum.

“Ngelamun?” aku hanya bisa membalasnya dengan cengiran mengingat ketitilan ku tadi “dari mana?”

“Ketemuan sama Prof. Marrion”

Dia mengangkat satu alisnya, dan menatap ku heran.

“Biasa… kencan yang tak diharapkan”

“Ha…ha…ha… sampai kapan sih kamu bisa lepas dari adat detensimu”

“Sampai gue berubah jadi anak rajin yang selalu berangkat pagi-pagi, biar nggak telat dimata pelajarannya dosen killer, Mr. Marrison”

“Ha…ha…ha…”

Faris masih tertawa gara-gara respon sarkasitik ku dan mulai reda saat seorang yang terlupakan tadi mendekat menghampirinya.

“Mas… mana?” Tanya cewek bersarung tersebut seperti meminta sesuatu, dan ku lihat Faris merogoh jakunya, lalu mengeluarkan sebuah Hp dan menyodorkannya ke cewek tersebut, yang langsung diambilnya kemudian bergegas pergi.

Aku menoleh ke cowok sbelah ku, dia seperti tahu apa yang ku maksud.

“Naila… adik ku”

Apa gue bilang, nggak mungkin pacarnya.

Tapi, eh… adik???.

“Hatam al-Qur’an, dia mintak hadiah liburan kesini”

“Oh…” mungkin karena aku juga tahu kalau Faris seorang penghafal, jadi tidak terlalu mengherankan saat tahu kalu adiknya juga penghafal.

“Ngopi?” ajaknya sambil menunjukan sebuah kedai kopi yang ada didekat taman tersebut, tidak terlalu besar tapi nyamanlah buat nongkrong, aku mengangguk dan mengikuti dia mencari tempat duduk di area luar caffe, aku memesan kopi kepada  pelayan kemudian menyalakan rokok, kulihat Faris juga melakukan hal yang sama. Dia memang terlihat Alim tapi dia juga cowok, bolehlah kalau merokok.

“Ngomong-ngomong si Naila kenapa pakai sarung?” Tanya ku setelah seseorang pelayan menaruh kopi pesanan ku.

“Kenapa memang?”.

“Ya… aneh aja, sarungkan buat cowok, masak cewek pakai”.

“Ha… ha… makanya lex, sekali-kali mata kamu tuh, buat nengok kehidupan Pesantren ,   jangan cuma buat lihat cewek sexi doang”.

“Mubadzirlah… kalau nggak dilihat”.

“Jaga pandangan lex” aku hanya nyengir mendengar ucapannya .

“Sarung itu tradisinya Pesantren, cowok cewek juga pakai, kalau yang kamu maksud Naila, dia memang suka pakai sarung, alasannya simple”.

Ku lihat dia meminum kopinya, aku menunggu dia meneruskan bicaranya.

“Dia nggak ingin tradisinya memudar”.

“Masih banyak kali ris , yang pakai sarung”.

“Kalau cowok sih… emang masih banyak, tapi kalau cewek sudah jarang yang masih mau pakai sarung. Lebih dominan pakai Gamis atau Rok, meskipun itu di Pondok Pesantren. Ke-eksis-an sarung sudah mulai menurun”

“Ribet mungkin” aku nyeruput kopi ku sambil melirik Faris, tapi ku dapati dia hanya mengedikkan bahu.

“Tapi ada sesuatu yang aku suka dari sarung, itu bentuk kesederhanaan lex, orang kaya, miskin, pejabat atau orang pinggiranpun kalau semua sudah kumpul pakai sarung udah nggak bakal ada yang tahu mana mereka yang berpangkat dan mana mereka yang penjahat, semua terlihat sama, sudah seperti tak ada lagi perbedaan anatara mereka dalam gaya busananya. Istilah kerenya… sarung itu penyetara nasib”.

“Wuih… eh, tapi kenapa aku nggak pernah lihat kamu pakai sarung?”.

“Lex… kamu kan juga tahu ini Negara apa?, kamu mau mereka mikir aku Gay, gara-gara mereka nggak bisa bedain mana cowok bersarung, mana cowok yang pakai Rok ya…”.

“Ha… ha… ha…”.

“Eh ris… gue jadi bayangin: gimana ya jadinya kalau teman kampus kita semuanya pakai sarung”.

Faris tertawa, tampang gelipun terukir jelas diwajahnya “kamu kira mau pengajian?, ngaco!”.

“Bukan pengajian ris…”.

“Terus….”.

“Sunatan masal”.

“Ha… ha… ha… gila”.

Aku memang terlalu buta tentang dunia ke-Pesantren-an, apa lagi sama yang namanya kaum bersarung, tapi satu gagasan mulai terbentuk dalam pikiran ku. Bahwa tidak ada seorangpun  yang rela kehilangan sebuah tradisi, apa lagi jika itu sudah menjadi identintas dan ciri hasnya, meskipun begitu tidak sedikit orang yang secara  tidak sadar mulai meninggalkannya.

Ku arahkan pandanganku ke tengah taman mencari-cari sosok bersarung tersebut. Saat ku temukan dia, dia terlihat sedang mengarahkan kameranya ke sepasang kakek nenek yang sedang berjalan jalan di taman. Tapi kemudian

“bukkk…” Faris memukul pundak ku cukup keras, tidak sakit sih, tapi aku sedikit kaget

“Adik gue ngapain lo plototin”

 

Oleh: Izzatul Fitria (delegasi putri V – lomba akhir tahun Pesantren Fathul ‘Ulum)

Facebook Comments

Tampilkan Selengkapnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close