Menjadi kekasih Allah Karna Meninggalnya Teman Dan Guru

Mbah Malawi adalah seorang Kyai kharismatik yang tersohor di daerahnya. Beliau sering di kunjungi oleh tamu-tamu penting dan masyarakat sekitar yang mempunyai masalah kecil, pribadi, keluarga. Beliau juga terkenal dengan khawaril ‘adat-nya. Pernah kala itu ada seorang pelacur bertemu pada beliau, meminta agar dirinya mempunyai banyak yang berkunjung padanya. dengan sifat Mbah Malawi yang bijaksana, Mbah Malawi pun memberi bacaan atau amalan kepada pelacur tersebut, Lalu sang pelacur pun pulang, kemudian 3 hari mendatang sang pelacur mendatang Mbah Malawi lagi untuk bertobat, lalu mbah Malawi pun bertanya kepada pelacur tersebut…….

“Mbah Malawi : kok sampean mau tobat kenapa?”

“Pelacur : ya Mbah aku mau tobat saja sejak diberi amalan sama Mbah…, saya banyak pelanggan, dari banyaknya pelanggan saya kecapean dan kesakitan jika terus menerus begitu, nanti aku bisa mati dalam keadaan capek bersetubuh, dari pada aku mati kelelahan, dari itu lebih baik aku bertobat….!”

Begitulah cara berdakwah Mbah Malawi yang mempunyai karamah yang istimewa. Pelacur pun bertaubat lantaran sifat bijaksana beliau. Dikemudian hari datang lagi seorang pelacur kepada Mbah Malawi minta bertobat atau berhenti menjadi pelacur….

Pelacur : “Mbah aku ingin bertobat, tolong bimbing saya….!”

Mbah Malawi : “kok…!, sampean ingin tobat, teruskan saja pekerjaan mu..!???”

Pelacur : “loh…! aku tobat kok nggak boleh Mbah…???

Mbah Malawi : “Bukan nggak boleh, kamu kan punya anak, nanti anak mu makan apa?

Pelacur : “aku terdiam, dan langsung mengangguk ya… ya…

Mbah Malawi : “tapi ada syaratnya….!”

Pelacur : “apa itu Mbah?”

Mbah Malawi : “kalau  kamu sedang melayani pelanggan mu jangan sampai kelihatan oleh ku!”

Pelacur : “ya Mbah…!  makasih atas pemasukannya..!”

Pelacur pun pulang, dan pada malam harinya, ia mangkal di pinggir jalan, baru sebentar langsung dapat pelanggan setelah dapat pelanggan, pelacur dan pelanggan sudah sama-sama buka baju, sang pelacur pun melihat Mbah Malawi, si pelacur pun tidak jadi melanyani pelanggan tersebut karna ingat janji sama Mbah Malawi.

Hari keduanya si pelacur pun mangkal di tempat lain, baru sebentar sudah kedatangan pelanggan. Ketika keduanya sudah saling merangsang tiba-tiba si pelacur melihat Mbah Malawi.

Hari ketiganya si pelacur pun pindah mangkal ketempat lain dan kali ini yang menyewa adalah orang kaya, kemudian si pelacur meminta untuk meladeninya di hotel dengan harapan Mbah Malawi tidak melihatnya. Ketika keduanya langsung membuka semuanya sampai telanjang bulat, dengan tidak sengaja pelacur tersebut tiba-tiba melihat Mbah Malawi. Akhirnya si pelacur berhenti meladeni pelanggannya, sang pelanggan bertanya pada pelacur tersebut… “ kenapa kamu gak mau nerusin?!” ujar sang pelanggan, lalu ia pun bercerita pada pelanggan tadi. “tiga hari yang lalu aku ingin bertobat jadi pelacur malah aku disuruh meneruskan olehnya dengan alasan anakmu nanti makan apa, tapi aku diberi syarat olehnya ketika aku meladeni pelanggan aku tidak boleh kelihatan olehnya”. Akhirnya pelanggan bertanya-tanya padanya, siapa yang di maksud olehnya, lalu ia menjawab, “Mbah Malawi…!!”. Setelah mendengarkan cerita sang pelacur, pelanggan tersebut menjadi tersentuh hatinya, dan keduanya bertobat karna Allah semata dan keduanya menikah berkat hidayah Allah yang melalui wasilah Mbah Malawi.

Mbah Malawi sesok Kyai yang tidak mau banyak santri, beliau mempunyai santrinya hanya 40 orang. Ketika santri beliau boyong (pulang) 2 orang, maka keesokan harinya datang lagi 2 orang dan seterusnya begitu.

Abdullah dan Hamid atau yang biasa dipanggil “Dul” dan “Amid”. keduanya adalah santri beliau dan  teman akrab yang selalu bersama, namun keduanya selalu bersaing dalam pelajaran, mengaji, jama’ah, dan tirakat.

Ketika disuatu hari, keduanya mengaji sorogan pada Mbah Malawi, mereka merasa aneh, setiap Mbah Malaiwi melihat Abdullah selalu tersenyum wajahnya ceria tapi Mbah Malawi ketika melihat Hamid, Mbah Malawi menangis dan wajahnya sangat sedih, kejadian itu pun terulang-ulang terus ketika setiap mengaji sorogan kepada beliau, hingga pada waktunya mereka  akan boyong.

Hamid : “Dul…! aku aneh loh sama Mbah Malawi, setiap aku mengaji sorogan, beliau selalu menangis dan mukanya sangat sedih….”

Abdullah : “betul itu, ya aneh sekali ketika melihat mu sedih, tapi kalau melihat ku beliau selalu tersenyum dan wajahnya bahagia tapi anehnya lagi kejadian itu hampir 10 tahun, setiap kali kita mengaji sorogan pada beliau.”

Hamid : “lah iya teryata kita berdua sudah 10 tahun ya nyantri pada Mbah Malawi ??, nah…. Dari pada kita berdua penasaran pada Mbah Malawi lebih baik kita berdua sowan (silaturrahim) ke beliau”.

Abdullah : “betul itu, dari pada kita berdua boyang dengan rasa penasaran lebih baik kita berdua bertannya pada beliau atas perilaku aneh pada kita.

Keesokan harinya keduanya datang ke rumah Mbah Malawi dengan tujuan silaturrahim dan meminta izin boyong (pulang), serta menayakan keganjalan pada beliau atas keanehan yang terjadi pada mereka berdua. Kemuadian Ketika mereka telah di hadapan Mbah Malawi….

Mbah Malawi : “ada perlu apa kesini ?” dari pertanyaan tersebut Abdullah lah yang menjawab …

Abdullah: “yang pertama, kami berdua datang menemui anda dengan tujuan silaturrahim, yang ke dua, kami meminta izin boyong, dan ada sebuah pertanyaan, tepatnya kami berdua ingin bertanya dengan sikap aneh Mbah Malawi kepada kami yang selalu sedih ketika melihat Hamid dan selalu bahagia ketika melihat Abdullah.

Mbah Malawi : “oh begitu ya…!? Begini nak, aku ketika melihat Abdullah terasa wajahmu itu seperti ahli surga, namun ketika aku melihat wajah Hamid itu seperti ahli neraka, dari itu aku merasa sedih, aku mengis ketika melihat Hamid, masa ada seorang santriku yang masuk neraka, jika itu memang terjadi berarti aku adalah seorang guru yang gagal mendidik muridku….!”

Hamid menangis sambil bicara…

“wahai guruku janganlah engkau menangisiku karna aku adalah ahli neraka atau ahli neraka. aku adalah milikNYA (Allah) apabila aku masuk neraka dengan mendapatkan ridhaNYA (Allah) aku ikhlas dan menerima dengan lapang dada. sesungguhnya neraka adalah miliknya, aku hanya bisa meminta atau berdo’a dan berikhtiyar tapi ketentua adalah milikNYA. Wahai guruku..!

Dan pada akhirnya Mbah Malawi menangis dengan ucapan Hamid, Mbah Malawi pun memeluk Hamid dan berkata “sesungguhnya engkau (Hamid) adalah ahli tauhid yang mengalahkanku (Mbah Malawi)”.

Setelah kejadian tersebut beberapa harinya Mbah Malawi meninggal dunia. Dan Hamidpun sangat terpukul, merasa bersalah karna beranggapan bahwa meninggalnya Mbah Malawi disebabkan oleh pertanyaannya kemarin, dan akhirnya Hamid jatuh sakit bertahun-tahun yang tak kunjung sembuh, karena ia selalu memikirkan gurunya, dan Hamid pun akhirnya meninggal. Tinggal nasib Abdullah yang merana…

Abdullah bersedih dan selalu murung dengan kejadian tersebut. Kemudian Ketika Abdullah tidur, dia bermimpi bertemu gurunya dan Hamid, keduanya berkata “janganlah bersedih wahai Abdullah! karna kau adalah penerus kami berdua..!” dari mimpi itu Abdullah kembali menemukan semangatnya dan terus dibimbing ke tingkatan yang lebih tinggi atau ke derajat ma’rifat kepada Allah…….

 

 

 

By : Tris Wijaya

Asrama “D”

Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *