Perjalanan Seorang Santri

Sewatu lulus dari SMA aku bingung mau ngapain.? Cuma main-main setiap harinya lama-lama akhirnya akupun bosan juga dan ortu-ku pun sebal melihat tingkah laku-ku setiap harinya yang selalu membikin onar, ulah dan masalah, akhirnya ortu-ku pun menyuruhku untuk mondok di Pesantren Lampung Selatan. dengan rasa kesal dan jengkel, aku meng-iyakan tawaran ortu-ku, walaupun dengan rasa terpaksa dari pada tidak diakui sebagai anak…!!!!!

Waktu awal masuk atau sampai di Pesantren aku seperti ayam yang kehilangan induknya, kayak orang idiot pokoknya, dan gak tahu arah aku yang terkenal berengsek, kejam, gak mau mengalah, keras kepala dan brutal, menjadi pendiam, seperti jam yang tak dikasih batrai pokoknya, 11-12 dengan orang Sholeh gitu deh… he..he…. awalnya aku pengen nangis teriak-teriak sekencang mungkin, tapi aku malu sama anak-anak dan orang-orang di sekitarku, terlebih sama tatto yang ada di lenganku. akhirnya aku Cuma diam, bila ditanya baru aku mau ngomong, culun banget dech pokoknya…

Sudah beberapa bulan di Pesantren aku teryata punya penyakit. Gejala MAG, biasa anak Pondok… karna aku gak teratur makan. serius sakit banget rasanya, mungkin ini ujian dari yang Maha Esa…, akhirnya aku dijemput ortu-ku dibawa pulang untuk berobat di rumah supaya ada yang ngerawat dan jagain biar lekas sembuh. Alhamdulillah penyakitku udah sembuh, dan aku sudah bisa berangkat ke Pondok, aku mulai merasakan tidak nyaman karna ulah teman-teman yang gak asyik, akhirnya aku gak kuat, aku aku ingin boyong (cabut dari pondok).

aku sering merenung sendiri. tiba-tiba ada salah satu pengurus yang menghampiriku, mungkin gak tega karna aku diejekin terus, lalu aku dikasih nasehat. “yang sabar ya..!, karna bla…bla…bla……الخ” . pokoknya banyak banget dech, sampai-sampai aku lupa apa yang diomongin. Cuma satu hal yang aku ingat, “ orang yang tinggal di Pesantren itu hanya orang-orang yang terpilih” aku mlongok, shok, kaget, banget waktu ngedengerinnya… Kata pengurus itu gak semua orang bisa tinggal di Pesantren, sambil nyengir-nyengir sambil mengucap Alhamdulillah, karna bangga….

Sungguh perjuangan yang sangat berat pada waktu itu, sudah jauh dari ortu,sanak family, dijauhkan dari komunikasi lagi, nyesek dech rasanya…, tapi alhamdulillah lama-kelamaan dengan seiringnya waktu yang silir berganti, sifat bandelku, nakalku dan sifat-sifat gak baikku pu mulai hilang, dan tiba-tiba aku di panggil suruh ke Ndalem pak Kyai (sebutan untuk rumah Kyai). spontan aku kaget, takut, bingung dan bertanya-tanya, pokoknya campur aduk jadi satu. akhirnya aku pun pergi menghadap pak Kyai sesudah sampai aku langsung di Tanya… “dos pundi kabare kang” (gmana kabarnya nak..?) Tanya pak Kyai, dengan rasa gemetar aku menjawab “alhamdulillah baik, Kyai..!”, “ngeten kang…! Jenengan ngertos kenopo kulo timbali wonten meriki?” (begini nak,apakah kamu tau kenapa aku panggil kesini?) “mboten Kyai..! (tidak yai..!) Jawab ku. “ngene kang…, jenengan kan sampun radi’ sepoh dadose kulo pengen sampean pindah ke Pondok Jowo, golek Kyai seng luwi ngalim!” (jadi begini… kamu kan udah agak tua, jadi aku pengen kamu pindah pondok ke Jawa, cari kyai yang lebih ‘alim!). dengan rasa gemetar aku bingung, aku gak berani bicara satu kata pun, Cuma diam dan merunduk, “ora sah mikir seng aneh-aneh kang.!” (gak usah mikir yang aneh-aneh, nak! ),Kata pak yai , “sampean tak kengken pindah mergo ten meriki mboten enten Sekolah Diniyah, jane eman kang sampean pindah iki, nangeng aku luweh eman, yen anakku gak iso ngaji, mulane mumpung durung tuwek sampean tak kengken golek Kyai sing Alim, dadose sampean ampon miker seng aneh-aneh inggih” (kamu saya suruh pindah karena disini gak ada sekolah Diniyahnya, sebenarnya saya nyesel kalo kamu pindah, tapi aku lebih nyesel kalo anakku gak bisa ngaji, makanya aku suruh kamu tuk cari kyai yang lebih alim, jadi gak usah mikir yang aneh-aneh ya!) tambah beliau. “inggih Kyai” jawab ku,

Kyai “pesan ku siji kang nek sampon angsal Kyai engkang Alim ampon pisan-pisan sampean ingkar” ( pesanku hanya satu nak, kalau udah dapet kyai yang alim, maka jangan sekali-kali kamu ingkar..!)

Aku “inggih Kyai pangestu lan ridhone” (iya kyai, mohon doa restunya)

Kyai “inggih kang, restu ku menyertai mu” (iya nak, restuku menyertaimu)

Setelah selesai sowan, aku pun bergegas-gegas beres-beres barang yang aku akan bawa pulang.

Dan beberapa minggu kemudian aku pun disuruh berangkat ke pulau Jawa dengan rasa berat hati karna terpisah dengan sanak famili dan keluarga, namun itu semua tak mempengarui niatku untuk menyantri di pulau Jawa.

Sesampai di pulau Jawa aku menuju kota Madiun karna punya saudara di sana, akhirnya aku pun sampai di kota Madiun bertemu saudara-saudara ortu, Alhamdulillah seneng rasanya bisa menyambungkan tali silaturrohim, aku pun tidak lama di kota Madiun Cuma berapa malam saja, pas pukul 7.30 WIB pagi, aku bergegas OTW ke kota Pare mencari alamat Pesantren yang aku tuju, dan sampai di kota Pare Alhamdulillah akhirnya ketemu juga alamat yang aku cari, Pondok Pesantren Fathul Ulum Kwagean.

Senang rasanya walau pun capek banget, tapi serasa hilang bila mendengarkan suara-suara santri-santri yang bersemangat mengkaji kitab Ikhya’ Ulumuddin yang langsung diqori’ oleh beliau Romo K.H Abdul Hannan Ma’sum.

Di pondok pukul 7.00 WIS aku di sowankan oleh salah satu pengurus Pondok, setelah selesai sowan aku dicarikan asrama atau kamar oleh bapak pengurus.

Setelah aku dapat kamar aku daftar sekolah Madrasah Diniyah (Madin) teryata satu minggu lagi tes penerimaan santri baru akhirnya aku memutuskan untuk ikut kelas II Tsanawiyah (Al Fiyah Awal). setelah tes selesai Alhamdulillah pada kertas pengumuman namaku ada, aku telah diterima masuk ke kelas II Tsanawiyah. Satu sudah berlalu sekarang aku sudah kelas III Tsyanawiyah sungguh berat, karna setiap hari harus lalaran pagi dan malam, sebenarnya aku sangat bosen, namun sudah menjadi kewajiban karna untuk perpisahan akhir tahun (wisuda)…

Hari demi hari terus berjalan rintangan dan cobaan silih berganti berdatangnya, alhamdulillah atas do’a dan dukungan ortuku, aku bisa melewati itu semua, jujur rasanya berat dan menegangkan karna wisudah kurang 2 hari lagi, muda-mudahan acara kami besok diberi kelancaran oleh NYA amin…

Dan semoga aku dan teman-teman bisa meneruskan Aliyah di Pon-pes tercinta ini (Fathul Ulum Kwagean)…

 

By : AS (Angkring Selatan)

 

Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *