Artikel

Tirakat Masihkah Perlu (?)

             Seperti yang kita ketahui, di Indonesia terdapat banyak pondok pesantren. Mulai pondok salaf, pondok modern ataupun kombinasi. Semuanya mempunyai kekurangan dan kelebihan masing – masing . dan kali ini mari kita kupas sebuah artikel yang berjudul “Tirakat Masihkah Perlu?”,

Tirakat berasal dari bahasa arab yang mempunyai arti meninggalkan atau tinggalan. Lafad tirakat merupakan bentuk masdar dari madhi taroka (ترك ). Tirakat itu identik dengan santri dan pondok pesantren. Di Indonesia banyak yang mengatur tentang tirakat. Ada yang menganjurkan secara tertulis ada pula yang menganjurkan secara lisan (ketetapan kiai) adapula yang melarang tirakat,. Semuanya mempunyai alasan dan alasan masing – masing.

Seperti pondok salaf yang menganjurkan bertirakat dengan alasan untuk memantapkan ilmu. Ada juga yang melarang tirakat seperti pondok modern karena dianggap menggangu kinerja siswa ataupun santri dalam melakukan kegiatan. Ia untuk pondok kombinasi dalam arti camuran antara pondok salaf semi modern ataupun salaf dan formal itu diatur oleh peraturan yang dibuat dengan melihat situasi dan kondisi.

Pondok kita yang tercinta ini termasuk yang bersifat kombinasi. Pondok yang didirikan oleh Al-mukarrom Hadrotus Syaikh Abdul Hannan Ma’sum Al-Hajj pada tahun 1980-an ini tergolong pondok yang sangat menganjurakan bertirakat. Walaupun ada peraturan yang tertulis yang berbunyi tidak boleh mendalami kejadukan sebelum aliyah, tapi makna tesirat dari peraturan tersebut jika selain kejadukan maka untuk semua kalangan diperbolehkan, terbukti banyak santri pondok tercinta kita ini yang melakukan tirakatan. Seperti tirakatan gundulan rabu, atau yang puasa, dan hampir semua santri pondok kita ini adalah pengamal hizb. Baik berupa hizb Ibnu Hajar ataupun hizb Jailani.

Hal ini menunjukan bahwa eksistensi dan antusiasi santri pondok kita ini untuk bertirakat masih tetap terjaga kelestariannya.

Bagaimana tidak, pendiri sekaligus muassis kita ini, selama masih nyantri sangat sering bertirakat. Baik berupamutih, ngrowot, dan muqiem pun dijalani. Beliau sebagai public figure dan contoh yang baik untuk menjadi acuan. Penulis pun sangat mengagumi beliau, karena beliau mempunyai keistiqomahan yang luar biasa. Terbukti sampai sekarang masih mengamalkan Du’aul Faraj. Doa yang bisa dibaca seusai sholat shubuh oleh santri – santri kilatan dan tarbiyah yang sudah memasuki kelas Aliyah. Beliau juga dikenal banyak orang karena memiliki ilmu hikmah yang tinggi baik berupa ilmu thib ataupun keselamatan. Beliau juga sering member ijazah atau amalan kepada siapa saja, tanpa melihat latar belakang orang tersebut. Itulah mengapa beliau sangat disegani oleh kalangan masyarakat, khususnya santri –santri sebagai pengayom.

Hal ini sangat berbeda dengan pondok lain. Seperti yang pernah penulis temui di salah satu pondok lain. Ketika itu ada seorang santri yang melakukan tirakat puasa daud selama 1 tahun , puasa yang dilakukan secara selang – seling. Pada hari terakhir santri disuruh berbuka oleh kiai-nya. Akhirnya santri tersebut mau tidak mau membatalkan puasanya, memang semuanya sudah terjadi bertahu tahun lalu. Tapi kejadian itu membuat penulis berfikir, apa maksut dari pembatalan puasa tersebut. Ternyata kebanyakan orang bertirakat menjadikan tirakat sebagai alasan untuk bermalas – malasan, jka bukan alasan itu maka belum saatnya mempelajari atau mendalami yang ditirakati tersebut. Mungkin itu sebabnya kiai sering menghentikan tirakat santrinya.

Dalam suatu maqolah “ Al-ilmu bitta’allumi la bin nasabi” (با لتعلم لا با لنسب العلم ) itu menunjukan ilmu itu didapat dengan belajar bukan dengan nasab. Terus apa hubunganya belajar dengan tirakat? Penulis akan memberi sedikit penjelasan. Dalam kitab Ta’lim diterangakan bahwa saat orang mencari ilmu itu ada 6. Yang pertama cerdas, sabar, ada dana, petunjuk guru, lapang dada, lama. Titik tekan tirakat pada keterangan ada diatas sabar dan ada dana. Kenapa penulis menekankan pada titik tersebut, karena penulis sendiri mengalaminya dan melihat kondisi disekitar penulis. Esensi dari tirakat adalah menahan hawa nafsu. Hawa nafsu adalah musuh terbesar manusia. Hal itulah yang mendorong penulis memilih sabar. Dalam satu syi’iran nahwu yang menjelaskan او bima’na الى.

لأتسهلن الصعب اوادرك المنى # فما انقادت الامال الا لصابر

Syair tersebut menjelaskan bahwa setiap keinginan atau cita – cita yang sulit itu bisa diperoleh dengan sabar. Mungkin itu bukan arti yang sebenarnya tapi penulis meringkasnya demikian. Terus apa hubunganya sabar dengan tirakat? Jelas sangat berhubungan sekali, dalam hadis nabi

: صبران صبر عند المصيبة حسن وافضل منه , الصبر عن محارم الله الصبر

Artinya : sabar itu ada dua yang pertama sabar saat mendapat musibah yang kedua sabar dari hal – hal yang diharamkan Allah.

Hadis itulah yang menjadi dasar tirakat . tirakat tidak harus puasa ,tapi meninggalkan perkara yang disukai nafsu baik itu dilarang oleh syariat atau tidak, itu juga tirakat, malah lebih utama.

                Yang kedua adalah adanya dana. Yaa seperti yang kita ketahui hidup bernasyarakat dalam lingkup pesantren itu terdapat banyak warna warni, ada yang selalu punya uang ada yang tidak. Itu yang membuat kadar grafiknya tirakat menurun. Sebagian besar santri termasuk penulis sendiri kalau sedang punya uang lebih malas bertirakat , tapi kalau sedang sepi uang baru bertirakat, hal itu wajar dan sering terjadi karena untuk meminimalisirkan pengeluaran, tapi bukan itu tujuannya.

Tujuannya dari tirakat sendiri adalah untuk mendekatkan diri pada Allah kalau menggunakan istilah ini akan sama dengan thoriqoh ( يقة طر). Sedangkan thoriqoh sendiri itu lebih mengarah ke sufian, kesamaan antara tirakat dan thoriqoh itu sama –sama mendekatkan diri pada Allah, tapi jalanya berbeda. Kalau thoriqoh itu menggunakan jalan suluk, zuhud dan wira’i. sedangkan tirakat kadang – kadang ada yang seperti itu tapi tidak semua tirakat begitu. Hal ini yang mendasari tirakat itu sendiri.

                Untuk serat cerdas, petunjuk guru, lapang dada, lamanya waktu itu bisa diperoleh dengan sabar yang sudah dijelaskan tadi. Cerdas bisa diperoleh dengan seringnya belajar, petunjuk guru bisa dipeoleh dengan thoat, lapang dada bisa diperoleh dengan sabar dan qonaah, dan lamanya waktu itu bisa dipersingkat dengan syarat – syarat diatas. “Dan untuk para gus jika tak mau belajar atau bertirakat ya tetap tidak akan sama dengan orang biasa yang mau belajar dan bertirakat” kata itulah dawuh romo yai yang sangat menginspirasi para santri agar lebih giat lagi…..

Kwagean, 18-09-2017

Tinggalkan Komentar

Tampilkan Selengkapnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close