Ngaji Selasa (Cinta Yang Sesungguhnya)

KWAGEAN, SELASA SORE, PENGAJIAN KITAB NASHOIHUL ‘IBAD

Meneruskan pengajian selasa pekan lalu yakni maqolah yang ke-empat puluh tujuh. Diceritakan dari Nabi S.A.W, beliau bersabda: Cinta yang sungguhan tergambar dalam tiga perkara. yakni bila seseorang lebih memilih (mengutamakan) ucapan kekasihnya daripada ucapan orang lain. Sebagai contohnya adalah ia lebih menyukai akan lantunan ayat-ayat suci dari pada mendengarkan suara-suara lain seperti halnya musik. Contoh lain seperti sepasang pemuda yang dilanda kasmaran, yang mana si lelaki memberikan harapan untuk melamar pacarnya lima bulan yang akan datang dikarenakan ia masih akan meneruskan kuliahnya hingga selesai, namun kekasinya mengatakan bahwa jangan terburu-buru, meski lima tahun pun aku akan siap menanti lamaranmu. Demikian adalah gambaran cinta yang sungguhan, karena meskipun harus lama menunggu, kekasihnya pun tetap setia menanti lamarannya dan tetap setia pada pacarnya.

Yang kedua ialah, ketika seseorang lebih memilih tuk bersanding dengan kekasihnya dari pada bersanding dengan orang lain. Hal tersebut menggambarkan bahwa sang kekasih lebih diperhatikan dari pada bersanding dengan orang-orang yang bukan kekasihnya, terlebih bila tidak ada kepentingan dengan orang tersebut. Seperti bila seseorang lebih mencintai Alloh, maka ia lebih suka akan menjalankan semua perintahNYA, dari pada melakukan maksiat, meski maksiat itu lebih menyenangkan.

Dan yang ketiga ialah, bila seseorang itu lebih memilih ridho kekasihnya dari pada ridho dirinya sendiri maupun orang lain. Seperti contoh seorang istri yang hendak memakai pakaian yang ia sukai, namun ia tetap bertanya kepada suaminya untuk menanyakan pakaian selera suaminya yang akan dipakai oleh dirinya. Dan meski sang suami memilih pilihan yang tak sesui dengan selera dirinya, maka ia tetap menuruti suami dengan memakai pakaian yang dipilih oleh suaminya.

Sesungguhnya saat seseorang mencintai suatu perkara, maka ia menjadi budak dari perkara tersebut. Yang dikehendaki ialah orang tersebut sangat memberi perhatian penuh kepada apa yang ia cintai. Sebagai contoh bila kendaraannya dikotori, maka ia akan marah-marah, karena merasa perkara yang ia cinta telah diperlakukan dengan tidak baik. Menurut Yahya bin Muad : cinta kepada Allah meski seberat biji sawi itu lebih ia sukai dari pada beribadah selama tujuh puluh tahun.

Kwagean, 17 Muharram 1438 H

Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: