4 Kesalahan Fatal Pemuda

4 Kesalahan Fatal Pemuda

1. Meremehkan Kewajiban
Banyak sekali di antara para pemuda yang meremehkan kewajiban-kewajiban yang telah di tetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, maupun kewajiban yang menuntut mereka untuk dekat kepada-Nya seperti semua kewajiban-kewajiban Negara, Lingkungan maupun Pesantren. mereka lupa, bahwa Allah menciptakan manusia tidak lain adalah agar beribadah kepada-Nya.
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya memberi Aku makan”. (QS. 51:56-57)

Dalam hubungan vertikal, Kewajiban paling pokok yang sering dilupakan oleh kebanyakan anak-anak muda adalah shalat (lima waktu) yang merupakan ibadah paling agung setelah syahadatain. Nabi telah menegaskan dalam sabdanya, “Perjanjian antara kita (muslimin) dengan mereka (orang kafir) adalah shalat, maka barang siapa meninggalkannya ia telah kafir.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan An-Nasai dishahihkan oleh Al-Albani). Apabila seseorang telah menyia-nyiakan shalatnya, maka terhadap selain shalat biasanya lebih menyia-nyiakan lagi.

Sedangkan dalam pandangan horizontal, anak-anak muda tidak pernah merasa memiliki sebuah kewajiban atas lingkungannya. Mereka senantiasa menggerutu bila dihukum sebab meninggalkan kewajiban, contohnya saat mereka belum memiliki sebuah SIM (Surat Izin Mengemudi) lalu terkena tilang Polisi, maka anak-anak muda akan marah dan mencaci, padahal siapa yang salah?

Di Pesantren misalnya, santri berkewajiban sekolah, musyawarah atau sorogan kitab. Meskipun tidak memenuhi kegiatan-kegiatan tersebut tidak mendapat dosa namun mereka tak pernah sadar bahwa dari semua itulah santri mendapatkan ilmu untuk hablu minallah. Anak-anak muda juga tak pernah mengerti siapa yang sebenarnya membutuhkan ilmu dan nanti siapa pula yang kelak mendapatkan manfaat dan barokahnya, malahan jaman sekarang seakan-akan Pengurus atau Guru yang membutukan anak didik atau santri-santri agar ilmunya bermanfaat.

Jika kita pandang lebih jauh, bayangkan jika di sebuah Negara tidak ada aturan wajib memiliki sebuah SIM untuk mengendarai Kendaraan Bermotor, lalu anak-anak kecil akan bebas sebebas-bebasnya berkendara meskipun kakinya belum sampai untuk menopang kendaraan. Mereka juga akan ngawur menerjang rambu-rambu lalulintas hingga akan banyak sekali kecelakaan dan pihak yang dirugikan.
Bayangkan pula bila Di Pesantren tidak pernah ada aturan-aturan baku, lalu semua santri bebas berekspresi sesuka hatinya maka apa bedanya Pesantren –yang notabanenya tempat menimba ilmu agama– dengan Diskotik?

2. Terlalu Menuruti Hawa Nafsu
Yakni dengan tanpa memperhati-kan halal dan haram lagi, yang penting kemauannya terpenuhi. Jika saja ia mau bersungguh-sungguh memegang aturan Islam serta mau berpegang dangan talinya, maka tentu Allah akan menjaganya dari hal-hal yang haram. Kemudian Allah akan memberikan untuknya kesenangan yang halal yang dapat mencukupinya. Namun karena keimanan yang lemah dan rasa malu yang tipis, maka ia malah enggan dengan pemberian Allah tersebut dan lari darinya sehingga melanggar batas-batas yang telah ditetapkan Allah. Maka ia berhak mendapatkan celaan dari Allah dalam firmanNya,
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan.” (QS. 19:59)

3. Durhaka Kepada Kedua Orang Tua
Allah telah mengingatkan kita semua dengan firman-Nya “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapanya” (QS.Luqman :14) Dan sabda Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam , “Terlaknatlah siapa saja yang mendurhakai kedua orang tuanya.”(HR. Ath-Thabrani dishahihkan oleh Al-Albani)

Jangan menyangka mendurhakai orangtua itu hanya perbuatan seperti yang dilakukan oleh Malin Kundang atau cerita-cerita kekejaman fisik seorang anak kepada orangtuanya. Masih banyak sekali perbuatan anak-anak muda yang sebenarnya sejara Majaz juga telah mendurhakai ayah dan ibunya. Sebagai contoh, seorang anak yang oleh kedua orang tuanya disekolahkan jauh keluar kota atau dititipkan ke Pesantren. Mereka sering mendurhakai orang tuanya dengan pura-pura meminta uang untuk keperluan pendidikan, padahal kenyataanya dari uang yang diterima mungkin hanya sepersekian yang benar-benar ditasharrufkan pada jalan yang benar. Anak muda tak pernah ingat bagaimana orang tua di kampung halaman susah payah mengais rejeki dan bagaimana perasaan Ayah dan Ibunya yang selalu menyangka anak-anaknya sedang giat belajar ilmu-ilmu namun justru kenyataannya sangat tak sebanding dengan prasangka baik orang tuanya.

4. Bangga dengan Perbuatan Dosa
Amat banyak anak muda yang merasa bangga apabila berbuat dosa, mencelakai sesamanya, memukul atau menghajar hingga terluka, kuat minum sekian botol, tidak puasa Ramadhan dan lain sebagainya. Bahkan mirisnya aib-aib tersebut justru diumbar dengan senyum bangga kesemua orang.
Andaikan ia tidak terang-terangan dan merasa bangga dengan dosanya, maka besar kemungkinan Allah akan mengampuninya, karena dalam Hadits Muttafaq ‘Alaih, Nabi Salallahi alaihi wa salam telah bersabda, bahwa seluruh umatnya akan diampuni kecuali al-mujahirun (orang yang terang-terangan dalam berbuat dosa).

*Oleh: Maya’rifu Irfan & M. Aly Wafa

Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: