NGAJI SELASA SORE, PEKAN INI 17 JANUARI 2017

Maqalah yang kesepuluh ialah…..

Diceritakan oleh Ali. R.A ; “Barang siapa yang mengharapkan masuk Surga, maka ia bergegas melakukan kebaikan,. dan barang siapa takut akan masuk Neraka,  maka ia mencegah diri dari mengikuti hawa nafsunya.  barang siapa meyakini akan datangnya kematian, maka kenikmatan dunia akan terputus (terlepas) dari dirinya. Barang siapa tahu bahwa eksistensi  dunia hanyalah sebagai  tempat yang penuh akan cobaan, maka cobaan berat  yang menimpa dirinya terasa ringan saja.

Maqalah yang ke-sebelas…..

Nabi berkata:   (الصّلاة عماد الدين)“shalat merupakan tiang Agama”, yakni shalat merupakan pokok berdirinya Agama.  agama tidaklah akan berdiri kokoh melainkan dengan melaksanakan shalat. Seperti halnya sebuah rumah yang bisa berdiri dengan kokoh dikarenakan adanya tiang penyangga.

                Diam itu mempunyai nilai lebih, berdasarkan Hadits Nabi :

(الصَّمْتُ أَرْفَعُ اْلعِبَادَةِ) روه الديلمي عن أبي هريرة رضي الله عنه

Diam ialah merupakan lebih utamanya jenis  ibadah” .

yang dikendaki dari Hadits tersebut ialah tidak angkat bicara  mengenai hal yang tidak ada manfaatnya mengenai agama dan dunia, disebabkan lisan (mulut) itu yang menjadi factor  pemicu  munculnya berbagai kesalahan, namun bila diamnya seseorang di saat dalam keadaan sepi ( sendiri) itu tidak dianggap sebagai bentuk ibadah.

                Bersedekah itu dapat meredam (mematikan) amarah dari sang Illahi, dan diam itu lebih utama. Nabi bersabda;

الصَّمْتُ زَيْنٌ لِلْعَالِمِ وَسِتْرٌ لِلْجَاهِلِ/رواه أبو الشيخ عَنْ مَحْرِز

‘’Diam merupakan perhiasan bagi orang Alim, dan merupakan tutup bagi orang bodoh’’.

Hadits tersebut menjelaskan bahwa diam merupakan perhiasan bagi orang Alim dilihat dari segi  haknya ilmu demikian memang sesui. dan alasan diam itu bebagai tutup bagi orang bodoh adalah kebodohan seseorang itu tertutupi (tidak diketahui) selama ia tidak berbicara, karena seseorang itu dinyatakan bodoh atau pintar  dapat diketahui  setelah ia berbicara.

                Puasa itu bisa menjadi benteng, yakni bisa menjauhkan diri dari api neraka, dan diam itu lebih utama. Namun tersibukkan dengan amaliah yang di dalamnya terdapat pahala, seperti halnya berdzikir, membaca al-Quran dan Ilmu itu lebih utama dari pada diam.  Adapun berjuang  merupakan puncaknya agama, sebagai contoh bahwa berjuang adalah sebagai puncak agama ialah  berjuang itu bisa diketahui dari jarak jauh, diibaratkan sebagai punggung onta yang terlihat dari kejauhan.

                Masih menjelaskan sekitar keutamaan diam, nabi bersabda;

الصَّمْتُ حِكَمٌ وَقَلِيْلُ فَاِعِلِهِ/ رواه القضاعى عن أنس والديلمي عن ابن عمر

Hadits ini menjelaskan bahwa diam itu terdapat banyak hikmah di dalamnya, namun sedikit yang mau mengerjakannya.

                Mengenai keutamaan berjuang dalam agama telah diterangkan dalam Hadits Nabi SAW;

أَفْضَلُ اْلجِهَادِ أَنْ تُجَاهِدَ نَفْسَكَ وَهَوَاكَ فِي ذَاتِ الله/ رواه الديلمي

Yang dikehendaki dari Hadits ini adalah menjelaskan keutamaan berjuang, dan lebih utamanya perjuangan ialah berjuang melawan hawa nasfu karena mencari Ridha Allah SWT, bukan karena yang lain.

                Maqalah yang ke-dua belas ialah…

Menurut sebuah pendapat, bahwa Allah SWT telah memberikan Wahyu kepada Nabi dari beberapa nabinya kaum Bani Israil ‘alaihim salam berupa ‘’Diam dari perkara bathil, yakni (perkara yang tidak ada manfaatnya) dengan niat mencari ridha-ku, maka baginya seperti pahala berpuasa’’. Menjaga anggota tubuh, seperti hal-nya kedua tangan dan kedua kaki dari melakukan hal-hal yang diharamkan dengan niat mencari ridha-ku, maka baginya ialah pahala shalat. Sedangkan tidak mengharap belas kasih dari makluk karena mencari ridha-ku, maka baginya pahala bersedekah. Dan tidak menyakiti orang Muslim karena mencari ridha-ku, maka baginya ialah pahala berjuang.

Semoga kita bisa mengamalkan semuanya, amin……

Tim Kaiffa

NASHOIHUL ’IBAD

facebooktwittergoogle_plusmail

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *