DASAR-DASAR TAQWA #ngajiselasa

Melanjutkan pengajian selasa sore pekan lalu yakni masih membahas Maqolah yang ke_lima puluh. Mushannif menjelaskan bahwa setiap orang yang merasa senang   kepada Allah itu dapat menjadikan ia merasa susah bersama Mahluk. ia merasa terganggu dengan kehadiran selain dirinya saat ia sedang bersenang-senang dengan Allah, kemudian ia akan berkhalwat (menyendiri) jauh dari mahluk agar tidak terganggu.

Dan Maqalah yang ke_lima puluh satu, Mushonnif berkata: di ceritakan dari Dzunnun al-Mishri, beliau berkata: “orang yang hatinya tahu Allah (al-Arif billah) ia adalah orang yang hatinya terikat tali cinta kepada Allah. Dan hatinya orang yang Arif billah tersebut itu bisa melihat, yakni orang tersebut menghiasi bathinnya dengan cara mawas diri, dan terhadap dhahirnya ia ia mencoba untuk bermuhasabah ( menghitung amal perbuatan yang telah ia kerjakan), amal yang telah ia lakukan karena mencari ridha Allah itu cukup banyak.

Kemudian Maqalah yang ke_lima puluh dua ialah Dzunnun al-Mishri berkata: orang yang hatinya tahu Allah ialah orang yang menepati akan janji Allah dengan cara menjalankan perintah-perintah-Nya. dan hati orang tersebut merupakan hati yang cepat menerima kefahaman. Amal perbuatan yang ia kerjakan karena Allah ialah amal yang bersih, amal bagus yang dapat bertambah dalam tiap waktu.

Maqalah yang ke_lima puluh tiga diceritakan dari Sulaiman ad-Daroni, beliau berkata: “Dasar dari setiap kebajikan di dalam dunia dan akhirat adalah takut kepada Allah. Karena rasa takut kepada Allah dapat menjadikan terjadinya pemindahan (pergantian) saat penerimaan buku catatan amal yang seharusnya ia terima dengan tangan kiri, maka rasa takut kepada Allah itu dapat mengubah penerimaan buku catatan tersebut beralih dengan menggunakan tangan kanan. dan terdapat rahasia didalamnya yakni saat seorang hamba dalam keadaan sehat maka hamba tersebut akan mempunyai rasa takut dan barharap agar rasa takut kepada Allah itu bisa mencegah dari melakukan maksiat, dan Roja’ (pengharapan) dapat memotifasi dirinya untuk melakukan amal perbuatan yang baik. Sedangkan amal ibadah seorang yang mengharap anugrah Allah itu lebih utama karena cinta kepada Allah yang telah mendominasi dirinya dan eksistensinya pada tingkatan lebih unggul dari pada orang yang mempunyai perasaan takut saja. Dengan demikian seorang Raja (penguasa) itu dapat membedakan antara orang-orang yang melayaninya atas faktor rasa takut akan siksaannya dan orang-orang yang bersedia melayaninya hanya sebatas mengharapkan imbalan atas apa yang telah ia lakukan kepadanya, dan orang-orang yang bersedia melayaninya tanpa mengharapkan imbalan apa-apa.

Kemudian Mushannif menjelaskan bahwa pembuka (kunci) Dunia adalah kenyang, urusan-urusan yang bersifat duniawi akan terbuka dengan adanya sifat kenyang. Berdasarkan firman Allah “ حَرِّكْ يَدَكَ رَزَقَكَ اللهُ “ (gerakkanlah tanganmu, niscaya Allah akan memberimu rizqi). oleh sebab itu manusia akan selalu menfokuskan fikirannya untuk mencari cara bagaimana bisa menjadi kenyang. Sedangkan pembuka (kunci) akhirat adalah lapar. sebab lapar, urusan akhirat akan menjadi terbuka.

Dan Maqalah yang ke-lima puluh empat, terdapat sebuah statement “ibadah murni karena Allah ialah merupakan perbuatan, yakni pekerjaan yang dihasilkan dari berbagai faktor. Adapun toko dari beribadah adalah mengasingkan diri, yang dikehendaki dari ungkapan toko ialah tempat bertransaksi antara sang Khaliq dan hamba. sebagai tempat bermuhadatsah dengan sang Khaliq secara rahasia sekira tidak diketahui oleh orang lain. Pokok dari ibadah itu sendiri ialah Taqwa kepada Allah dengan cara menjaga diri dari melakukan perkara yang berkonsekuensi siksa, yang berupa mengerjakan maksiat atau meninggalkan perintah. Sedangkan keuntungan dari ibadah ialah mendapatkan Surga, yaitu tempat balasan amal baik.

Maqolah yang ke-lima puluh lima diceritakan dari Malik bin Dinar, beliau berkata: “cegahlah dirimu dari melakukan tiga perkara yang tercela dengan melakukan tiga perkara yang terpuji, hingga dirimu menjadi golongan dari orang-orang yang beriman”. Tiga perkara tersebut ialah “mencegah sifat sombong dengan berusaha tawadhu’. Yang dikehendaki dari sombong itu sendiri ialah mencari kemulyaan dari pandangan manusia, dan dirinya memandang manusia dengan perasaan menghina. Dan hal tersebut adalah kebalikan dari kata Tawadhu’. Yang kedua ialah suka akan hal duniawi, maka tindakan yang diambil untuk pencegahan ialah dengan Qona’ah yakni ridha dengan bagian yang telah ditentukan untuk dirinya. Kemudian yang terakhir ialah sifat Hasut. Hasut ialah mengharapkan hilangnya Nikmat orang lain kemudian ia mengharapkan Nikmat tersebut dapat beralih kepadanya. Untuk mencegah hasut tersebut yakni dengan upaya seperti halnya Nasihat, yang dikehendaki dengan Nasihat ialah seperti halnya Doa, agar ia berubah menjadi baik dan tercegah dari perbuatan yang rusak.

 

facebooktwittergoogle_plusmail

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *