KOPI GUS JALIL

 KOPI GUS JALIL

 “ Hallaaaah……” teriakku pada hamid yang bersikeras tak mau meminjamkan uang padaku.

“ Ya udah, 5 ribu aja Mid… aku janji 3 hari lagi udah balik” tawarku lagi.

“ Nggak din, aku nggak mau pinjemin kamu uang kalo buat PSan” Hamid menukas sambil nyelonong keluar dari kamar kumal ini.

“ Dasar pelit kau …!” umpatku sambil membuang pandangan dari santri pelit itu.

Sambil terus bersungut-sungut ku langkahkan kaki menuju ruang kelas 3a sambil berharap tak ada orang di sana yang akan menggangguku. Aku ingin tidur, aku ingin menjauh dari orang- orang kikir itu. Oh Tuhan…mengapa kau takdirkan aku menjadi orang miskin. Mengapa kau jadikan aku kere yang tak pernah hidup enak begini??…

Jujur, aku mengeluh atas kemiskinanku ini, protes dan menggugat keadaan yang serba kekurangan. Aku iri pada Saiful, aku iri pada Anam atau Fauzi, iri pada mereka terlahir menjadi orang-orang kaya. Setiap bulan selalu mendapat kiriman lebih dari 1 juta, bahkan ketika mereka butuh uang mereka hanya perlu memainkan jari-jari mereka di atas iphone atau balckberry masing-masing dan uang akan segera berhamburan ke wajah mereka. Hampir setiap hari mereka PS-an, nge-net, atau sekedar nongkrong-nongkrong di kantin. Setiap hari jum’at mereka main futsal di lapangan yang harga sewanya 100 ribu perjam. Oh Tuhan…apakah ini adil…?! Setiap hari mereka makan enak, sedangkan aku hanya makan dengan sayuran seperti kambing dan sepotong kerupuk yang sudah tak kriyuk-kriyuk lagi

***

Orang tuaku hanyalah buruh tani, yang bekerja saat ada orang yang menyewa saja, selebihnya hanya mengandalkan ladang sempit yang ditanami ketela. Mungkin bagi mereka 200 ribu adalah jumlah yang banyak, tapi…di sini aku butuh uang. Aku ingin punya hp, aku ingin beli baju baru yang bagus, aku ingin ngopi di kantin setiap hari, seperti yang dilakukan anak-anak orang kaya dan anak-anak para kyai itu. Tapi kenapa…kenapa tuhan…?! Sekali lagi aku menghujat dan menggugat tuhanku dalam hati.

“ Greek…blammm…!!!”

Kubuka pintu kelas 3a dan kubanting dengan kasar hingga suara pintu itu mendengung beberapa detik di telingaku.

“ Deg…!”

Tiba-tiba jantungku berdegup lebih kencang dan darahku mengalir lebih cepat. Dihadapanku ada sosok kalem yang sejak tiga tahun lalu menjadi pembimbing dan guruku di pesantren ini. Beliau adalah putra tertua kyai sepuh, yang terkenal alim dalam segala bidang ilmu pengetahuan dan linuwih dalam hal kebatinan. Sambil menghisap sebatang rokok, beliau duduk bersila menghadap tepat ke arah pintu. Menatapku dengan santai seakan beliau sudah sedari tadi menantikan kedatanganku. Serta merta perasaan marah, malu, gugup, takut dan ta’dzim bergulat di dalam dadaku, membuat kepalaku tertunduk secara tiba-tiba tanpa aba-aba. Ya, beliau adalah gus Jalil.

“ Mari Din, duduk sini. Kelihatannya kamu lagi ada masalah” ucap gus Jalil sambil tersenyum kecil padaku.

“ Inggih gus”  Perlahan amarahku luntur

kudekati gus Jalil, kemudian kucium tangannya sebagai ungkapan ta’dzim pada beliau. Sejenak kemudian suasana berubah menjadi hening, hanya detak jam dinding dan kemretek suara rokok yang berbisik.

“Saya dengar kamu sering nggak masuk sekolah ya din ?” suara gus jalil memecah kebekuan sore itu.

“ Inggih gus”

“ Katanya kamu juga jarang syawir ?”

“ Inggih gus”

“ Terus juga nggak pernah ngaji pagi ?”

“ Inggih gus…” aku meng-iya-kan untuk kesekian kalinya.

“ Kenapa sering nggak masuk sekolah din ?”

“ Eeng…ketiduran gus”

“ Lah…emang kalau pagi ngapain ?”

Aku diam tak berani menjawab.

“ Kamu kerja ya kalau pagi ?”

“ Mboten gus”

“ Trus ngapain..?”

“ Mmm…biasanya main PS gus” jawabku dengan ragu bercampur takut.

“ Ooo…terus kalau malam pas waktunya syawir kemana ?”

Aku kembali terdiam.

“ Nggak usah takut Din, aku nggak akan kasih kamu hukuman. Aku cuma pengen tahu”

“ Anu gus…nonton tv di warung pinggir jalan sana”

“ Ooo…gitu”

Gus Jalil manggut-manggut sambil sesekali menghisap sebatang rokok cirikhas-nya dengan lintingan tangan sendiri yang sedari tadi bercokol di antara jemarinya yang berotot.

“ Din..udin…kamu itu kalau lagi ada masalah jangan dilarikan kepada sesuatu yang buruk. Larikanlah pada sesuatu yang baik, yang ada manfaatnya. Seingatku dulu kamu nggak seperti ini, sekolah nggak pernah telat, musyawaroh selalu aktif, ngaji juga rajin. Sekarang kenapa  berubah din ?” ucap gus Jalil sembari mematikan rokoknya yang sudah pendek.

“ Kalau dirumah, ayah ibumu adalah orang tuamu. Tapi kalau di sini akulah orang tuamu, nah sekarang ceritakan masalahmu padaku supaya kamu nggak terus-terusan keblinger” lanjutnya.

Entah mengapa dan bagaimana aku seperti terhipnotis ucapan gus jalil, seolah tanpa beban aku membuka semua masalah yang kusimpan selama ini.

“ Begini gus, saya ingin menjadi seperti Saiful, saya ingin menjadi seperti Anam atau Fauzi. Mereka selalu hidup enak, tak pernah kehabisan uang. Mereka bisa makan enak setiap hari, berganti pakaian sesuka mereka. Mereka bisa mendapatkan apapun yang mereka inginkan. Sedangkan saya tidak gus. Bisa makan hari ini saja sudah untung. Jangankan beli kitab, beli sandal saja saya harus ngutang. Belum lagi kalau kirimannya telat, hhh…” aku berhenti sejenak menghela nafas.

“ Dulu saya pengen kerja gus, dan sampai sekarang pun masih begitu. Saya ingin hidup lebih baik. Saya sudah berkali-kali minta izin sama bapak dan ibu untuk berhenti mondok dan pergi ke luar kota untuk bekerja, tapi sampai sekarang mereka tak pernah mengijinkan. Mereka malah menceramahi saya kesana dan kesini, membuat kepala saya semakin pusing gus !” Aku bercerita panjang lebar tentang semua keluh kesahku. Sambil setengah terengah aku berkisah ngalor-ngidul menumpahkan kekacauan dan kegalauan hatiku pada gus Jalil.

Aku menghela nafas dalam-dalam, memberi tanda berakhirnya ceritaku. Gus jalil hanya diam saja, tersenyum dan manggut-manggut mendengar semua ceritaku.

Selama beberapa detik ruangan ini terasa hening dan sepi. Hanya detak-detak jam dinding yang berdetik dengan nada tegas, mengisyaratkan bahwa waktu akan terus berjalan dan takkan pernah berhenti.

“ Baiklah Din, sekarang kamu ikut aku”

“ Inggih gus”

Gus jalil mengajakku berjalan menuju tempat yang sudah sangat akrab denganku, kantin al barokah, salah satu kantin yang dimiliki keluarga ndalem.

“ Sini Din, duduk”

Gus jalil memintaku duduk di kursi panjang yang bersebarangan dengan beliau yang terpisah oleh sebuah meja yang juga panjang. Tak lama kemudian kang Tholib datang membawa 4 buah gelas berisi air panas mendidih, disampingya ada gula pasir, kopi bubuk, mi instan dan kerikil. Gus Jalil memasukkan gula, kopi, mi instan dan kerikil ke dalam tiap-tiap gelas berbeda dan mengaduknya. Selama 5 menit aku terus mengamati dan memikirkan tentang apa yang sedang dilakukan oleh gus yang hobi memancing ini.

“ Nah…apa yang kamu pelajari dari keempat gelas ini Din ?”

Pertanyaan gus Jalil membuatku semakin bingung dan penasaran.

“ Maaf gus, saya belum paham maksud panjenengan”

“ Begini, seseorang di dalam bergaul ibaratnya adalah seperti benda-benda ini. Ada kalanya seperti gula pasir, ia bisa mengubah lingkungan sekitarnya tempat ia berada, tapi ia sendiri berubah dan kehilangan jati dirinya. Ada juga yang seperti kopi yang mampu mengubah lingkungan sekitarnya, tapi ia tetap dan tak berubah sebagaimana ketika saat ia masuk kedalam suatu lingkungan. Lalu ada lagi yang seperti kerikil, ia tak terpengaruh oleh keadaan lingkungan tapi ia juga tak bisa mengubah lingkungannya. Dan yang terakhir adalah orang-orang yang seperti mi instan ini, ia tak bisa mengubah lingkungan tempat ia berada, bahkan ia sendiri menjadi lembek, lemah dan hancur seiring berjalannya waktu”

“ Udin, jadilah kamu orang-orang yang bersifat seperti kopi. Ia tak pernah berubah walaupun keadaan memaksanya untuk berubah. Bahkan ia mampu  mengubah tempat dimana ia berada sesuai dengan warna dirinya. Jadilah dirimu sendiri, jadilah seperti saat kamu pertama kali masuk ke pesantren ini, rajin, bersemangat, selalu ingin tahu dan aktif. Permasalahan-permasalahan yang kau hadapi saat ini adalah karena pangaruh teman-temanmu yang kebanyakan adalah anak orang mapan, maka dari itu coba renungkan kembali tujuan hidupmu, dengarkan apa yang dibisikkan oleh hati kecilmu. Dengan begitu insyaallah kau akan menemukan jati dirimu tanpa harus berontak”

Aku terdiam menyimak dan mengumpulkan tiap tetes kata yang dikucurkan oleh gus Jalil dan berusaha mengalirkannya ke setiap sudut hatiku yang terasa kering dan jauh dari sumber-sumber kebijakan.

Kemudian gus Jalil mengajakku beranjak menuju areal persawahan yang cukup luas. Di sana beliau menceritakan keadaaan para petani yang tiap harinya berangkat pagi hari dan baru pulang pada sore harinya demi upah yang tak seberapa. Memberitahuku betapa berat dan beratnya beban kedua orang tuaku agar aku bisa tetap belajar di pesantren ini. Diam-diam hatiku meneteskan air mata, meratap dan menyesali semua kesempatan dan pengorbanan orang tuaku yang terbuang sia-sia.

“ Din, mulai sekarang kamu bantu aku mengurus sawah ini. Kamu akan bekerja dengan kang Parmin, nanti dia yang akan mengajarimu bagaimana menggarap sawah. Insyaallah kalau kamu ada pekerjaan pikiranmu akan lebih terjaga dan menjadi lebih dewasa dengan adanya tanggung jawab. Lagian hasratmu untuk bekerja juga akan tersalurkan. Bagaimana, apa kamu bersedia?”

Aku terdiam beberapa saat, berpikir dan mempertimbangkan tawaran gus Jalil.

“ Inggih gus, saya bersedia”

Sekilas kulihat senyum gus Jalil semakin mengembang mendengar jawabanku. Akupun membalas senyuman itu dengan kepala yang tetap tertunduk ta’dzim.

“ Baiklah Din, sekarang mari kita pulang. Nanti kamu temui kang Parmin, dan mulai besok kamu kerja sama dia”

“ Inggih gus”

Kemudian kami berjalan beriringan kembali menuju pesantren, menyusuri jalanan berumput yang menyeruakkan suasana damai di sore itu. Dari kejauhan kudengar sahut-sahutan adzan dari pengeras suara yang bertengger di surau-surau desa, menyerukan panggilan bagi umat muslim untuk segera bersiap-siap melaksanakan ibadahnya.

Dan sejak hari itu aku mulai belajar menata pikiran dan mentalku dengan berkhidmah. Setiap pagi aku bekerja di sawah milik gus Jalil, mempelajari tiap detil dari beban orang tuaku yang selalu berusaha untuk mencari rizki untuk bekalku belajar dengan menggarap sawah. Dan sore harinya aku belajar menata hati dan sikapku dengan menyimak petuah-petuah dan nasihat dari gus Jalil. Menyiapkan hati agar siap menyambut takdir Tuhan dan menempa jiwa agar lebih kuat menghadapi ujian.

 

facebooktwittergoogle_plusmail

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *