Cinta Allah#ngajiselasa

NGAJI SELASA SORE

Ngaji bareng di serambi masjid Al-Arif Kwagean…

Meneruskan pengajian selasa pekan lalu dari Maqolah yang ke-empat puluh lima yang diambil dari hadis Nabi SAW yaitu cinta karena Allah ialah merupakan dasar dari Ma’rifat. Kemudian untuk selasa sore ini ialah Maqolah yang ke-empat puluh enam dari kitab Nashoihul ‘Ibad:

Diceritakan dari Shofyan Bin Uyainah R.A, beliau berkata: barang siapa cinta kepada Allah, maka ia cinta terhadap orang yang dicintai Allah, yakni orang yang dicintai Allah ialah para alim ulama’ dan orang-orang shaleh, dan cinta akan perbuatan orang sholeh tersebut, karena sudah hal yang pasti bila orang sholeh itu perbuatannya terpuji. Dan barang siapa cinta terhadap suatu perkara yang mana cintanya tersebut karena Allah, maka ia akan senang melakukannya tanpa ingin diketahui siapapun.

Dan dinukil dari syaikh Al-Asqolany: bahwa sesungguhnya cinta terhadap Allah itu diklasifikasikan menjadi dua bagian, yaitu yang pertama adalah “Fardu”, yakni yang dikehendaki dengan fardu ialah mahabah yang membangkitkan perasaan untuk mengikuti perintah-perintah Allah dan menjauhi semua laranganNYA, serta ridho akan takdir Allah yang telah dibagikan.

 Sedangkan yang kedua yaitu Nadbu (sunnah), yakni selalu melaksanakan amalan-amalan sunnah dan menjauhi semua perkara Syubhat (perkara yang berpotensi halal dan haram). Dan diceritakan dari shahabat Abu Bakar R.A: barang siapa pernah merasakan kemurnian cinta kepada Allah, maka ia akan tersibukkan dengan mahabah tersebut dan tidak menghiraukan perkara dunia meskipun perkara dunia tersebut meresahkan dirinya.

Dan romo KH. ‘Abdul Hannan Ma’shum menambahkan dawuhnya yang dikutip dari sebagian ‘ulama, dan kurang lebih seperti dibawah ini:

والناس ثلاثة رجل شغله معاشه عن معاده فهو من الهالكين ورجل شغله معاده عن معاشه فهو من الفائزين والأقرب إلى الإعتدال هو الثالث الّذى شغله معاشه لمعاده فهو من المقتصدين

“Manusia itu ada tiga golongan. Pertama, golongan yang disibukkan oleh kehidupan dunianya daripada akhiratnya. Mereka ini termasuk golongan yang binasa (halikin). Kedua, golongan yang disibukkan oleh urusan akhiratnya daripada urusan dunianya. Mereka termasuk golongan orang yang beruntung (faizin). Dan ketiga, golongan orang yang disibukkan oleh kehidupan dunianya untuk kepentingan akhiratnya. Mereka termasuk golongan orang yang dapat mencapai tujuan (muqtasidin)”.

Demikianlah pengajian selasa sore pekan ini, dan tentunya masih banyak keterangan maupun cerita yang tidak kami muat karena keterbatasan kami.

Kwagean, 10 Muharram 1438 H

facebooktwittergoogle_plusmail

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *